Tour Baduy

Rombongan perjalanan ke Baduy

Mendengar namanya teringat cerita teman-teman yang sudah pernah kesana, ingin rasanya menghilangkan rasa penasaran terhadap kampung tersebut. 21 Nopember 2014, saya diajak untuk menjelajahi kampung Baduy. Yap, terlaksana sudah mimpi 3 tahun yang lalu…

Stasiun Kereta Api Serpong menjadi pilihan kami untuk transportasi umum yang kami gunakan setelah mengendarai motor 1 jam dari rumah kami. Kereta yang kami naiki jurusan Rangkas Bitung, Sempat bingung dan kaget karna tiketnya hanya seharga 2000/orang, Namun ternyata itu tiket ekonomi Kereta Api, Sedangkan tiket yang seharga 15.000 kami lihat diwebsite itu adalah commoter.

Wajar saja, dengan tiket harga 2.000 kondisi didalam keretapun semrawut karna tidak sesuai dengan bangku yang tertera di tiket, siapa cepat dia dapat, itulah filosofi kereta disana, penjual asongan pun masih sangat banyak dengan menyamar layaknya seorang penumpang dengan sorot mata yang tajam mengawasi gerak gerik petugas keamanan kereta (POLSUSKA). Mereka menawarkan dagangannya kepada penumpang dengan suara yang pelan… barang jualan merekapun tidak serta merta menempel dibadan, tapi diletakkan dibawah bangku penumpang agar tak terlihat oleh POLSUSKA,

Perjalanan menempuh waktu 2 jam lebih untuk tiba di Stasiun Rangkas Bitung, Setibanya disana kami langsung menaiki angkutan umum (Angkot) berwarna merah denan tujuan Terminal Aweh, Terminal yang tidak besar dan tidak ramai oleh hilir mudik kendaraan dikarenakan tujuannya yang ada di terminal tersebut tidak untuk Lintas propinsi.

Ada 4 Jurusan dari terminal tersebut (Cisemut, Parigi, Ciboleger) dan 1 lupa :D dan untuk semu jurusan menggunkan kendaraan jenis Mitsubishi Elf kapasitas maksimum 15 orang dengan barang bawaan di atas mobil Jika penumpang full. Dan jadwal bekerangkatannya pun suka2 supirnya jadi jangan berharap anda bisa berangkat jika mobil tersebut belum penuh,, kami memilih tujuan Terminal Ciboleger dimana terminal tersebut adalah terminal yang sangat dekat dengan kawasan baduy luar.

Dengan waktu tempuh 2 jam dari terminal aweh menuju terminal Ciboleger dan kodisi jalan yang tidak mulus akhirnya kami tiba dengan selamat diterminal Ciboleger disambut dngan patung manusia berpakaian suku baduy, Ternyata Kang Herman (nama guide local kami di baduy luar) sudah menunggu dan menyambut kami dengan senyuman hangatnya.

Kami langsung menuju kediaman kang herman dengan berjalan kaki melewati pasar sederhana dan toko2 sederhana yang ada dikanan kiri jalan yang kami lalui, ± 40m dari terminal kami tiba d perbaatasan baduy luar dengan masyarakat desa lainnya, Patung berbentuk angklung sebagai tanda batas baduy luar dan desa lain, selain sebagai pembatas patung angklung tersebut juga mencirikan kesenian khas desa Baduy.

Bentuk Rumah suku baduy secar keseluruhan berbentuk sama, dengan bentuk panggung beralas bambu, berdinding Bilik bambu, dan beratapkan anyaman dari daun kirai. (Cerita isi rumah)
Tiba di rumah kang herman sejenak kami beristirahat melepas lelah, berbincang ringan sambil menikmati alam yang masih asri, tenang dan damai.

Tak terasa langit semkin gelap, dan jam sudah menunjukan pukul 6 sore, kami pun bergegas untuk menunaikn shalat maghrib, di dalam rumah orang suku baduy tidak memiliki sumur apalagi sumur bor, karna di desa baduy dilarang untuk menggunaan pacul karna bisa merusak keaslian alam, maka dari itu mereka membeli selang untuk mengaliri air dari mata air ke Rumah mereka, dengan jarak yang jauh dari mata air kang herman pun harus membeli selang sepanjang 700m agar bisa mengaliri air ke kamar mandinya, tidak semua masyarakat baduy memiliki saluran air yang langsung kerumahnya, tapi banyak juga yang datang ke tempat penampungan air yang mereka buat secara gotong royong untuk kebutuhan tiap keluarga di satu desa.

Karna kami penasaran dengan sumber mata air yang dapat memenuhi kebutuhan air di desa baduy luar maka kami putuskan untuk menjadi agenda perjalanan kami esok harinya. Makan malam sudah siap menu malam itu adalah Nasi, Ikan asin, oseng-oseng kulit buah melinjo, dan cabai, sederhana tapi nikmat. Tidak lama setelah kami makan dataglah adik dari istri Kang herman yang masih tinggal di baduy dalam dengan membawa tas yang terbuat dari kulit pohon tertentu yang telah dipesan sebelumnya oleh si pembeli, (Lupa nama tasnya). Semakin terasa kehangatan dalam keluarga itu, Malam semakin larut, pukul 8 malam serasa pukul 12 malam di desa baduy, karna tidak ada listrik dan lampu membuat kami tidur lebih awal,

Pagi tiba, terasa segar badan ini walaupun tidur hanya beralaskan tikar pandan, sarapan dan bersiap2 untuk melakukan perjalanan ke desa baduy dalam yang menjadi tujuan utama kami, sebelum berangkat kami ke pasar yang ada didekat terminal ciboleger untuk membeli kebutuhan makan kami di desa baduy dalam. Packing, persiapan pribadi dan Lets explore Baduy dalam.

Danau Dandang Ageng


Tempat pertama yang kami tuju, dengan semangat dan rasa penasaran mengharuskan kami segera berangkat, sekitar 3 km dari tempat tinggal kang herman dengan danau dandang ageng dan kami tempuh dalam waktu 30 menit dengan medan jalanan tanah dan batu2 yang disusun ketika menanjak. Kebun padi kering, dan desa menjadi pemandangan yang exotic untuk mata.

Setiba di danau kami cukup puas dengan apa yang telah membuat kami penasaran, danau yang dikelilingi oleh pohon kirai dan air yang jernih, memanjakan mata kami.

Gazebo


Setelah menikmati pemandangan danau yang Alami kami melajutkan perjalanan menuju desa Gazebo tidak mudah untuk melintasi jalan pintas yang ditunjukan oleh kang Santa (guide local). Memang sebenarnya itu bukan jalur yang ditentukan untuk para wisatawan melintas, namun itu adalah perintaan kami, yap,,, jalan yang buka seharusnya, dan itu hanya jalan air ketika hujan dan itu yang kami lewati, turunan yang curam semak belukar yang rapat, licin dan berbatu sedikit menyulitkan kam dalam melangkah. Setelah 1 jam blusukan dihutan, tibalah kami didesa kecil... terlihat dari desa tersebut desa ….

Komplek pedesaan yang sangat rapih dalam membangun rumah2nya, jalan yang dibuat dari susunan batu kali, dan pembatas jalan dengan halaman rumah mereka sangat mencerminkan suku baduy yang rendah hati dan patuh. Kami istirahat sejenak disalah satu rumah yang memang berjualan alakadarnya, kopi dan teh hangat melengkapi istirahat kami dirumah yang sejuk, sang pemilik rumah sedang membuat kain tenun di teras rumah, kebanyakan di desa ini para wanita membuat kain tenun dan para pria berkebun. Kang Narwan salah seorang yang tinggal di Baduy dalam kebetulan beliau adalah tetangga dari kang Santa yang akhirnya mampir mengampiri dan berbincang-bincang, suasana begitu cair sesekali beberapa rombongan lewat didepan kami dan beristirahat di rumah rumah yang ada di desa itu.

Kami melanjutkan perjalanan setelah 15 menit beristirahat, dari sana kami berjalan di tepian sungai, air yang berwarna coklat banyak bebatuan dan sungai yang dangkal namun lebar membuat perjalanan kami lebih berwarna, sekirat 3km perjalanan melewati kebun dan jembatan bambu yang mereka buat secara bergotong royong semua warga dan struktur jembatan yang mebuat saya tercengang dengan desain jembatan yang belum pernah saya lihat sebelumnya.. hanya susunan bambu yang diikat dengan tali dari sekam membuat jembatan itu kokoh bergantung diatas sugai yang lebar, ilmu yang dipelajari dari alam dan sama sekali bukan hasil pendidikan dari bangku sekolah dan kuliah.

Lumbung Padi


Setelah menyeberangi sungai dengan jembatan dari bambu kami melihat bangunan panggung beerbentuk persegi dengan atap seperti rumah berukuran 2x2m sebagai lumbung padi, bukan hanya ada 1, namun lebih dari lima buah bangunan milik tiap2 warga yang ada di kampung itu, tetap dengan susunan bangunan yang rapi membuat mata kagum melihat keseragaman suku baduy…

Perjalanan kami masih belum selesai, Jalan tanah yang lebih bayak menanjak panas matahari yang menyengat dan sesekali melewati hutan, jembatan, desa, mengantarkan kami pada titik dimana kami tidak boleh lagi menggunakan camera, Hp, dan alat electronic lainnya karna kami sudah tiba dikawasan baduy dalam yang dibatasi oleh sungai dan jembatan bambu.

Rasa penasaran kami semakin bertambah walau otot-otot kaki sudah kelelahan dan gemetar, namun semangat dan tekad yang kuat megalahkan itu semua, dengan sisa tenaga yang kami paksakan ditambah tanjakan terjal yang harus kami lalui membuat kami berhenti beberapa kali disana, nafas yang sudah terengah-engah, otot betis yang sudah sangat menegang mengharuskan kami berhati2 dalam mengamil langkah dan gerakan, konsentrasi terhadap tubuh dan fisik sangat diperlukan karena sesekali kita salah dalam mengontrol tubuh bisa saja kram pada otot kaki, jatuh, dan terperosok menimpa kami… tajakan itu sering menjadi plesetan oleh para wisatawan sebagai tanjakan cinta mengambil sebutan dari tanjakan cinta di gunung semeru.

Perjalanan masih jauh, dan kami benar2 berada dalam situasi yang sangat lelah, tapi apa yang bisa kami lakukan, tidah mungkin ada ojek disana, sepeda, angkutan umum, apalagi helipad hanya kaki kita yang benar2 menjadi kendaraan tubuh ini untuk mencapai apa yang kami tuju.

Sekitar 2 jam perjalanan dari tanjakan cinta kami tiba di desa Cibeo desa pertama suku baduy dalam daru jalur yang kami lewati, rasa lega, gembira dan syukur tak henti-hentinya kami ucapkan,,, subhanallah kami tiba di desa dimana kearifan local sangat mereka jaga, dan alam yang lestari, sunyi sepi dan damai menyejukan hati.

Tempat tinggal suku baduy dalam tidak jauh berbeda dengan baduy luar, bangunan yang berbentuk panggung, lantai terbuat dari bambu yang dicacah, dinding dari bilik anyaman bambu dan atap dari anyaman daun kirai, namun bangunan itu tidak sama sekali menggunakan paku atau kawat untuk mengikat ataupun menyatukan bagian-bagian dari bangunan, hanya menggunakan rotan yang dibuat untuk mengikat. Di dalam ruangan tidak ada tempat pribadi hanya dapur yang memiliki ruangan tersendiri dengan tungku lebar dan peralatannya.

Yang membuat menarik dari peralatan makan mereka adalah gelasnya yang dibuat dari bambu yang besarnya hampir sama dengan gelas mug, dalam rumah yang cukup besar mereka tidak memiliki kamar mandi didalam rumah. Untuk kebutuhan air bersih untuk memasak dan minum mereka mengambil di lokasi mata air yang tidak terlalu jauh dari kampung mereka, dengan menggunakan bambu yang diambi 1 ruas dan diberi 2 lubang sebesar jari tangan di bagian atasnya untuk menampung air kebutuhan sehari-hari mereka, untuk mandi dan mencuci mereka melakukannya disungai namun tidak menggunakan sabun mandi dan sikat gigi karna memang suku baduy dalam melarang untuk menggunakan bahan Kimia yang langsung bercampur dengan air atau tanah. Karna mereka sangat menjaga kelestarian alam.

Pakaian suku baduy sangat sederhana, hanya baju putih mirip dengan baju koko putih dan kain selutut yang disebut Samping aros dan diikat dengan sabuk dari kain yang disebut Lamak, bagi pria mereka menggunakan penutup kepala kain berwarna putih dengan 2 cara pakai, untuk orang yang lebih tua memakai pengikat kepala sepenuhnya menutupi rambut (Telekung), dan untuk pemuda atau masih muda mengenakan koncer (penutup kepala yang tidak menutupi keseluruhan kepalanya). Disetiap desa ada seorang Puun (Ketua Adat) yang sangat dihormati dan dipatuhi, pemerintah tidak dapat berperan di dalam suku baduy, Terbukti bahwa suku baduy dilarang bersekolah, dan tanah di dalam suku baduy tidak diperjual belikan, melainkan milik masyarakat (milik khalayat) baduy dalam itu sendiri.

Minggu pagi kami bersiap untuk kembali, namun kali ini kami tidak melewati jalur/track ketika datang, melainkan melalui jalur lain karena ada jembatan dari akar pohon beringin yang wajib kita kunjungi ketika di baduy. Track/jalan pun tidah mudah tanjakan yang terjan dan kecil banyak kita temui di track ini, beda dengan jalur pertama kali kami datang yang lebih banyak melewati kebun dan bukit yang jarang sekali pohon-pohon besar memayungi hingga terik mataharipun langsung menyengat.

Dijalur ini kita dimanjakan dengan hutan lindung yang masih asri dengan berbagai macam pepohonan besar dan semak-semak di kanan atau kiri jala setaak yang kami lewati. Bagi saya track ini sangat menarik dan menyeangkan, sesekali kita bisa bertemu dengan mata air yang keluar dari dinding-dinding tebing, dingin dan segar.

±3 jam kami berjalan dan track yang kami lewati semakin terjal, licin dan kecil dengan jurang disebelahnya. setelah banyak rintangan yang kami lewati, dengan sesekali terpeleset akhirnya kami tiba di Jembatan Pohon yang memang menjadi salah satu ikon desa baduy, sungai yang besar dennga air yang coklat dan batu-batu yang berserakan disungai membayar lelah perjalanan kami untuk mencapainya, 2 Buah pohon Beringin yang bersebrangan yang menyatukan akar-akar kedua pohon tersebut hingga membentuk sebuah jembatan alami yang sangat unik. Alam membuat segalanya yang tak nyata menjadi nyata. Sayangnya kami tidak bisa berlama-lama dikeajaiban alam ini, karena waktu yang mengharuskan kami segera melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Jakarta.

Masih 1,5 jam lagi perjalanan kami menuju check point terakhir dimana kami dijemput disana oleh kendaraan elf yang sudah disewa dari awal kami datang. Mitsubishi Elf dengan bagasi yang ditaruh di atas mobil dan sekaligus sebagai tempat penumpang yang tidak muat di dalam kendaraan adalah satu-satuya kendaraan umum yang memiliki trayek dari terminal Aweh menuju Terminal kecil Ciboleger.

Cukup mudah untuk mencapai desa baduy, Dengan menggunakan KRL dari tanah abang bagi yang tinggal di Jakarta atau Stasiun Serpong bagi yang tinggal di tangerang Selatan lalu turun di Stasiun Rangkas Bitung dilanjut dengan berjalan keluar dari area stasiun rangkas bitung dan naik Angkutan umum jurusan terminal Aweh, setibanya diterminal Aweh langsung naik Mobil Mitubishi Elf tujuan Ciboleger, dan tibalah di perbatasan baduy luar dengan masyarakat ciboleger.

Baduy adalah desa yang masih menjaga budayanya turun temurun sampai saat ini, namun kini suku baduy terbagi menjadi 2 bagian yang disebut suku baduy Luar dan Dalam, Baduy dalam lah yang masih menjaga dan merawat budaya nenek moyangnya, Kearifan local sangat terasa ketika berada dibaduy dalam, disini kita merasa kembali kemasa lalu negeri tercinta kita ini yang penuh dengan keanekaragaman suku dan budaya.

Categories:

Leave a Reply