Tour Baduy



Seperti janjiku dulu ketika pertama kali mengunjunginya, sekali lagi aku mengunjungi Baduy Dalam. Masih banyak hal yang ingin saya pelajari dari kemurnian alamnya, kebijakan masyarakatnya, serta hal-hal lain yang ada disekitarnya. Mengunjungi Desa Kanekes tempat dimana masyarakat Baduy tinggal, sangat menakjubkan, semakin lama kita berinteraksi dengan masyarakat Baduy semakin banyak hal-hal yang ingin aku ketahui. Seperti magnit yang menarik-narik pikiranku untuk terus memikirkannya.

Rute yang Sama




Perjalananku kali ini mengambil rute yang sama persis ketika aku mengunjunginya dulu, turun dari kereta di stasiun Rangkas, langsung dilanjut dengan menggunakan angkutan umum menuju Ciboleger, dan disana teman Baduy ku “Herman” sudah menunggu untuk menemani kami menelusuri perkampungan Baduy dan hutan-hutannya hingga sampai di Cibeo, tempat Herman dan seluruh anggota masyarakat Baduy Dalam tinggal. Kami hanya berempat, bersama Puji, April dan Aan menyempatkan makan siang dulu dan sholat di Ciboleger.



Sebelum memasuki kawasan hutan Baduy, kami menyempatkan membaca papan pengumuman atau peringatan tentang ketentuan adat yang berisi larangan bagi siapapun yang memasuki kawasan ini, yang menarik adalah yang terpampang itu hanyalah sebagian kecil dari begitu banyak larangan dari adat masyarakat Baduy. Ditemani Kang Herman dan anaknya “Asda” yang masih kecil, serta satu teman Baduy lagi Naldi, bertujuh kami mulai berjalan kaki memasuki kawasan. Seperti biasa, ketiga rekan Baduy ku berjalanan dengan pakaian mereka yang khas dan tanpa alas kaki, itu sudah menjadi bagian dari adat mereka yang teguh dipegang dan dilaksanakan dengan ringan hati.



Memasuki dusun Balimbing dengan nafas sudah mulai memburu, keringat mengucur, Aan bertanya akan ada berapa dusun lagi kita lewati ?, masih ada 4 dusun lagi di depan yang terpisah oleh hutan dan kita akan naik turun melewati gunung atau bukit serta ladang atau hutan yang sepi, sambut Kang Herman. Selanjutnya masih harus menyeberangi beberapa sungai sedang dan kecil, yaitu dusun Merengo, Gajeboh, Cicakal, lalu Cipaler, dan berakhir di dusun Cibeo.

Mendengarnya aja sudah capek.. bagaimana dengan perjalanan yang sebenarnya?, sambil duduk di teras salah satu rumah Baduy, Puji mengeluarkan botol air minum dan meneguknya. Kami istirahat sejenak, mengatur nafas dan mental..

Konstruksi Rumah Baduy



Sambil istirahat, perhatianku tertuju pada pondasi atua tepatnya kaki rumah Baduy dan konstruksinya. Betapa sederhana rumah ini dibuat, kaki-kaki rumah yang terbuat dari kayu hanya diletakkan begitu saja diatas tanah yang dilandasi oleh batu kali, sekedar agar rata dan membatasinya dengan tanah. Tanpa harus menggali dan tanpa menggunakan semen.

Melanjutkan perjalanan melewati jalan-jalan didusun, diantara rumah-rumah Baduy jalan ini adalah tanah yang diratakan dan dilapisi batu kali dalam ukuran yang cukup dan disusun dengan rapi sehingga nyaman dilewatinya. Ada hal yang menarik, ada bambu yang sangat panjang melintangi jalan, dan aku lihat air mengalir didalamnya, persis yang melintang diatas jalan bambunya masih bulat hanya ada beberapa lubang berbentuk persegi dibagian atasnya, sementara yang tidak melintang bambu itu dibelah jadi dua. Entah dari mana asal air ini, yang jelas dialirkan untuk keperluan penduduk desan Balimbing.



Selang beberapa lama, kaget ketika melihat sungai yang dibendung untuk mencegat potongan-potongan kayu dalam ukuran sedang, spontan teman-teman berkomentar, wah.. ada pembalakan. Herman segera menjelaskan itu adalah kayu sengon dari ladang-ladang masyarakat Baduy luar yang dijual oleh pemiliknya untuk keperluan industri pengolahan kayu. Ini bukan pembalakan, sudah pasti penebangan pohon ini melewati perijinan yang tidak gampang, apalagi jika dikaitkan dengan ketentuan adat yang ketat, jika hal ini tidak memenuhi ketentuan adat, tentu tidak akan terjadi pertunjukan terbuka ini. Pohon-pohon sengon ini mungkin sudah waktunya dipanen, untuk diganti dengan bibit-bibit yang baru untuk dipanen beberapa tahun ke depan, begitu seterusnya, barangkali ini memang mata pencaharian masyarakat Baduy luar. Kayu sengon ini ditebang dari ladang-ladang yang posisinya di hulu sungai, lalu di gulirkan ke sungai dan dibiarkan terbawa arus hingga tiba di ujung sungai.



Perjalanan berlanjut dan kami sudah tiba di jembatan bambu pertama, nanti ada jembatan bambu lagi setelah dusun Cipaler. Bambu adalah komponen penting bagi masyarakat Baduy, sebagian besar keperluan rumah dan perabotan terbuat dari bambu, lantai rumah, dinding rumah, amat untuk mengambil air, gelas, dll. Semuanya dibuat dengan bahan dasar bambu.



Pada kesempatan di perjalanan, saya menemukan dua buah lumbung dengan desain yang berbeda, satu lumbung dengan desain khas Baduy luar, yaitu bangunan yang terbuat dari kayu dan berdinding anyaman bambu berbentuk persegi panjang dengan luasan dasar dan atapnya sama, dengan jarak dari tanah sekitar 20 – 50 cm. Sedangkan lumbung disebelahnya jauh lebih tinggi dari permukaan tanah, dan terdapat piringan yang terbuat dari kayu persis dibawah dasar lumbung yang fungsinya mencegah tikus naik.



Bagian atas lumbung Baduy Dalam lebih besar dari bagian bawahnya, seperti nampak pada foto berikut ini, beruntung sekali aku menemukan 2 lumbung ini berdampingan, karena di Baduy dalam kita dilarang memotret, jadi selama ini aku hanya bisa mendiskripsikan tanpa bisa menunjukkan fotonya, barangkali ini satu-satunya prototipe lumbung Baduy Dalam yang terdapat diluar dusun Cibeo.

tetapi yang ini lumbung yang mungkin sudah rusak, atau sengaja dindingnya dilepas, dan digunakan untuk menyimpan kayu bakar.

Kami tiba di jembatan bambu kedua, dibatas Dusun Cipaler, diseberang sana adalah wilayah Baduy Dalam, dan kami harus mematikan camera lalu menyimpannya, begitu juga semua peralatan komunikasi. Ketentuan ini harus dijalankan, bukan semata-mata demi menghormati adat setempat, tapi ini bagian dari komitmen setiap orang yang memasuki wilayah Badui Dalam. Tanda peringatan sudah terpampang di pintu masuk kawasan Baduy, di Ciboleger. Jadi ini sudah menyangkut integritas seseorang, tentang kepatuhan akan aturan yang ada, kalo bukan kita yang menegakkannya, lalu siapa lagi ? Kemurnian alam Baduy dan Masyarakatnya sudah terjaga ratusan tahun oleh masyarakat Baduy sendiri, maupun masyarakat diluar Baduy…



Kami melintasi sungai yang indah, airnya dangkal dan mengalir beriak, dinaungi pohon-pohon yang teduh, adem, suasana begitu damai, tenang, setenang wajah-wajah Baduy yang jujur, kedamaian yang mempesona yang bisa kita nikmati dan rasakan hanya beberapa jam saja dari Jakarta yang hingar bingar.

tadinya aku pikir ini alat permainan congklak, rupanya alat untuk mencetak gula merah

Sesampainya di desa Cibeo, Kang Herman sibuk membersihkan rumah, menyiapkan segala sesuatunya termasuk tungku untuk memasak, tak lupa air putih yang segar… air Cibeo yang murni, kami meneguknya dari gelas yang terbuat dari bambu, ini menjadi semacam ritual bagi kami. Malam itu kami berbincang panjang lebar tentang kehidupan, juga tentang Baduy, ditemani Bu Herman, Naldi dan Abah yang bergabung dan dengan sabar menceritakan apa-apa yang kami tanyakan, termasuk tentang rumah Baduy yang dibuat tanpa memangkas tanah, tanpa menggunakan sebatang paku pun. Dan ada satu lagi yang aku baru tahu, tiap rumah Baduy dalam, memiliki satu buah kayu panjang tanpa sambungan sebagai “belandar” (istilah jawa) atau penopang utama dari atap rumah, terletak diatas atau “wuwungan” istilah jawa dipasang sejajar lantai dari batas paling belakang sampai batas depan, kira kira diatas pintu rumah, dan kayu ini ditebang sendiri, dan dibentuk hanya dengan menggunakan kampak, tanpa alat gergaji atau sejenisnya. Ini harus, ini aturan adat.



Kesaksian Naldi membuktikan betapa panjang sejarah Baduy dengan kehidupannya yang bersahaja mengelola alam yang murni, asli, tanpa polusi. Kami melanjutkan perjalanan menuju dusun Gerendeng, untuk selanjutnya meninggalkan kawasan Baduy menuju Jakarta, tempat kami tinggal dan mencari nafkah, tempat keriuhan segala macam jenis manusia dengan segala kepentingannya, dari yang jujur sampai yang serakah, miskin dan kaya, tempat segala macam limbah dan polusi berada, segala macam produk buatan manusia yang berakhir di tempat sampah, tempat mengalirnya sungai sungai yang hitam dan bau, tak seperti sungai Baduy yang murni. Sekali lagi aku berjanji akan mengunjungi Baduy lagi, untuk belajar lagi….

Tulisan dan Photo: Muhammad Afif

Categories:

Leave a Reply